Gaya para capres ketika berdialog sangatlah menarik untuk diperhatikan, dalam hal ini kami tidak membahas tentang cara berpakaian mereka tetapi lebih kepada perilaku mereka (para capres) ketika berdialog.
Capres Megawati dengan no urut 1 ini lebih cenderung ke sikap hati-hati ketika bertindak, Capres SBY dengan no urut 2 ini lebih kepada sikap yang manis, dan menghargai orang lain ketika berbicara, Capres Jusuf Kalla dengan no urut 3 ini lebih kepada sikap yang lugas dalam berbicara dan tidak ada basa basi.
Tuesday, June 30, 2009
black campaign pada pilpres 2009
Pilpres 2009 tinggal beberapa hari lagi, tim sukses masing-masing capres sudah mulai melupakan etika persaingan. Yaitu dengan memunculkan isu-isu di masyarakat yang memberikan kesan negatif atas capres tertentu.
Dari mulai isu "neo liberal" untuk Cawapres Budiono sampai gambar sosialisasi pilpres oleh KPU. Sebenarnya isu neo liberal yang di sebarkan ini sangatlah tidak bertanggung jawab, karena neo liberal sendiri di Amerika memang sudah tidak digunakan lagi karena kegagalannya beberapa waktu yang lalu jadi seharusnya capres yang bijak tidak menggunakan isu ini sebagai senjata.
Apakah kita akan memilih capres yang suka menusuk saingannya, atau menebar janji belum tentu diwujudkan. Jangan terjebak oleh janji-janji karena belum terbukti. Gunakan hak pilih anda dengan bijak karena suara anda akan berguna untuk menentukan pemimpin Indonesia berikutnya.
Dari mulai isu "neo liberal" untuk Cawapres Budiono sampai gambar sosialisasi pilpres oleh KPU. Sebenarnya isu neo liberal yang di sebarkan ini sangatlah tidak bertanggung jawab, karena neo liberal sendiri di Amerika memang sudah tidak digunakan lagi karena kegagalannya beberapa waktu yang lalu jadi seharusnya capres yang bijak tidak menggunakan isu ini sebagai senjata.
Apakah kita akan memilih capres yang suka menusuk saingannya, atau menebar janji belum tentu diwujudkan. Jangan terjebak oleh janji-janji karena belum terbukti. Gunakan hak pilih anda dengan bijak karena suara anda akan berguna untuk menentukan pemimpin Indonesia berikutnya.
Labels:
Pemilu 2009
Tuesday, June 16, 2009
Profil Jusuf Kalla
Nama :
Jusuf Kalla
Agama :
Islam
Istri :
Ny Mufidah Kalla
Anak :
1 Muchlisah Jusuf
2. Muswirah Jusuf
3. Imelda Jusuf
4. Solichin Jusuf
5. Chaerani Jusuf
Pendidikan :
S1 Universitas Hasanudin 1967
MBA European Institute of Business Adm Prancis,1977
Karir :
1968 - 2001 : Dirut NV Hadji Kalla
1988 - 2001 : Komisaris PT Bukaka Teknik Utama
1999 - 2001 : Menteri Perindustrian Perdagangan
2001 - 2004 : Menko Kesra
2004 - 2009 : Wakil Presiden RI
Alamat : Jl. Mangun Sarkoro No 1, Jakarta Pusat
Semasa menjadi mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin hingga menjadi sarjana, Jusuf Kalla sempat menjabat Ketua Umum HMI dan KAMI Ujung Pandang. Inilah awal dari karirnya beroganisasi. Kalla menyelesaikan studinya di Universitas Hasanuddin pada 1967. Lelaki kelahiran Watampone (Makassar) 15 Mei 1942 ini kemudian melanjutkan studinya di The European Institute of Business Administration, Prancis (1977).
Kalla terlahir dari keluarga pedagang. Ayahnya Haji Kalla dan ibunya Athirah adalah pengusaha tekstil di Kota Bone. Dari sini Kalla Group bermula. Kalla kemudian menjabat Direktur Utama NV Hadji Kalla dan PT Bumi Karsa (1968 - 2001), Komisaris Utama PT Bukaka Teknik Utama (1988 - 2001), Komisaris Utama PT Bukaka Singtel International (1995 - 2001).
Hingga akhirnya pada 1999 pada era pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, Kalla dilantik sebagai Menteri Perindustrian dan Perdagangan. Ketika tampuk kekuasaan beralih ke Megawati, Kalla dipercaya sebagai Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Agustus 2001 - April 2004)
Pada Desember 2004 Jusuf Kalla menjabat sebagai ketua umum Partai Golkar, menggantikan Akbar Tandjung sampai saat ini. Di tahun itu pula ia maju bersama SBY dan memenangkan Pemilihan Presiden. Kini setelah bercerai dengan SBY, ia kembali bekerjasama dengan kalangan militer, Wiranto.
sumber: http://pemilu.detiknews.com/read/2009/06/01/173442/1140906/710/jusuf-kalla
Jusuf Kalla
Agama :
Islam
Istri :
Ny Mufidah Kalla
Anak :
1 Muchlisah Jusuf
2. Muswirah Jusuf
3. Imelda Jusuf
4. Solichin Jusuf
5. Chaerani Jusuf
Pendidikan :
S1 Universitas Hasanudin 1967
MBA European Institute of Business Adm Prancis,1977
Karir :
1968 - 2001 : Dirut NV Hadji Kalla
1988 - 2001 : Komisaris PT Bukaka Teknik Utama
1999 - 2001 : Menteri Perindustrian Perdagangan
2001 - 2004 : Menko Kesra
2004 - 2009 : Wakil Presiden RI
Alamat : Jl. Mangun Sarkoro No 1, Jakarta Pusat
Semasa menjadi mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin hingga menjadi sarjana, Jusuf Kalla sempat menjabat Ketua Umum HMI dan KAMI Ujung Pandang. Inilah awal dari karirnya beroganisasi. Kalla menyelesaikan studinya di Universitas Hasanuddin pada 1967. Lelaki kelahiran Watampone (Makassar) 15 Mei 1942 ini kemudian melanjutkan studinya di The European Institute of Business Administration, Prancis (1977).
Kalla terlahir dari keluarga pedagang. Ayahnya Haji Kalla dan ibunya Athirah adalah pengusaha tekstil di Kota Bone. Dari sini Kalla Group bermula. Kalla kemudian menjabat Direktur Utama NV Hadji Kalla dan PT Bumi Karsa (1968 - 2001), Komisaris Utama PT Bukaka Teknik Utama (1988 - 2001), Komisaris Utama PT Bukaka Singtel International (1995 - 2001).
Hingga akhirnya pada 1999 pada era pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, Kalla dilantik sebagai Menteri Perindustrian dan Perdagangan. Ketika tampuk kekuasaan beralih ke Megawati, Kalla dipercaya sebagai Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Agustus 2001 - April 2004)
Pada Desember 2004 Jusuf Kalla menjabat sebagai ketua umum Partai Golkar, menggantikan Akbar Tandjung sampai saat ini. Di tahun itu pula ia maju bersama SBY dan memenangkan Pemilihan Presiden. Kini setelah bercerai dengan SBY, ia kembali bekerjasama dengan kalangan militer, Wiranto.
sumber: http://pemilu.detiknews.com/read/2009/06/01/173442/1140906/710/jusuf-kalla
Profil Susilo Bambang Yudhoyono
Nama :
Susilo Bambang Yudhoyono
Tempat / Tgl Lahir :
Pacitan, 9 September 1949
Agama :
Islam
Istri :
Ny Kristiani Herawati
Anak :
1. Agus Harimurti Yudhoyono
2. Edie Bhaskoro Yudhoyono
Pendidikan :
Akmil Magelang tahun 1973
Master of Art (MA) dari Management Webster University, AS
S3 Ekonomi Pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB)
Karir :
1996 - 1997 : Pangdam II Sriwijaya
1997 - 1998 : Kasospol ABRI
1999 - 2001 : Menteri Pertambangan dan Energi
2001 - 2004 : Menko Polkam
2004 - sekarang : Presiden RI
Alamat : Puri Cikeas Indah, Cibubur, Bogor
Begitu masuk level jenderal, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) langsung menarik perhatian pengamat militer. Dia termasuk sedikit di antara jenderal TNI yang memiliki wawasan intelektual melampaui bidang yang ditekuninya. Tak heran, dulu ia kerap digolongkan sebagai jenderal intelektual.
Kecemerlangan wawasan lulusan terbaik Akmil 1973 ini mengantarnya dalam berbagai jabatan penting. Ia pernah menjadi Kasdam Jaya tatkala terjadi peristiwa 27 Juli 1996. Setelah itu, ia promosi menjadi Pangdam II Sriwijaya sampai akhirnya ditarik ke Mabes ABRI sebagai Kasospol dengan pangkat letjen.
Ketika Presiden Gus Dur berkuasa, SBY yang juga menantu Jenderal Sarwo Edhie Wibowo ini ditawari masuk kabinet sebagai Mentamben. Tawaran tersebut diterima yang di sisi lain, membuatnya terpaksa harus pensiun lebih cepat 5 tahun dari karir militernya.
Kerjasamanya dengan Presiden Gus Dur berlangsung tak lama. Setelah sempat mampir sebagai menkopolkam di tahun 2001, SBY kemudian diberhentikan oleh Gus Dur. Tapi begitu Gus Dur dilengserkan MPR, dan Megawati naik menjadi presiden, SBY kembali ditunjuk menjadi menkopolkam.
Kebersamaan dengan Megawati pun ternyata tak awet. Menjelang akhir masa pemerintahannya, SBY tak dilibatkan dalam beberapa pengambilan kebijakan pemerintahan. Uneg-uneg ini disampaikan kepada pers yang menyebabkan suami Megawati, Taufik Kiemas menyebutnya sebagai jenderal yang kekanak-kanakan. Tak dinyana justru sindiran ini melambungkan simpati publik pada SBY.
Pada pemilu 2004, SBY dengan kendaraan Parta Demokrat yang telah ia persiapkan sejak tahun 2001, SBY maju ke bursa capres bersama Jusuf Kalla (JK). Pasangan ini mendapat dukungan penuh dari PKS dan PBB. SBY-JK pun akhirnya memenangkan pemilihan presiden dalam 2 putaran setelah mengalahkan Megawati-Hasyim Muzadi dalam duel terakhir.
Selama menjadi presiden, banyak deraan menimpa SBY. Pada awal pemerintahannya, ada idiom SBY adalah presiden bencana karena banyaknya bencana alam yang menimpa Indonesia. Setelah itu berlanjut dengan krisis minyak yang memaksanya menaikkan harga premium dan solar.
Meski demikian, SBY pun punya catatan sukses. Di masa pemerintahannya lah konflik Aceh terselesaikan, demikian pula dengan komitmen pemberantasan korupsi yang realisasinya jauh lebih bagus ketimbang presiden-presiden sebelumnya.
sumber: http://pemilu.detiknews.com/read/2009/01/05/124302/1057638/710/susilo-bambang-yudhoyono
Susilo Bambang Yudhoyono
Tempat / Tgl Lahir :
Pacitan, 9 September 1949
Agama :
Islam
Istri :
Ny Kristiani Herawati
Anak :
1. Agus Harimurti Yudhoyono
2. Edie Bhaskoro Yudhoyono
Pendidikan :
Akmil Magelang tahun 1973
Master of Art (MA) dari Management Webster University, AS
S3 Ekonomi Pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB)
Karir :
1996 - 1997 : Pangdam II Sriwijaya
1997 - 1998 : Kasospol ABRI
1999 - 2001 : Menteri Pertambangan dan Energi
2001 - 2004 : Menko Polkam
2004 - sekarang : Presiden RI
Alamat : Puri Cikeas Indah, Cibubur, Bogor
Begitu masuk level jenderal, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) langsung menarik perhatian pengamat militer. Dia termasuk sedikit di antara jenderal TNI yang memiliki wawasan intelektual melampaui bidang yang ditekuninya. Tak heran, dulu ia kerap digolongkan sebagai jenderal intelektual.
Kecemerlangan wawasan lulusan terbaik Akmil 1973 ini mengantarnya dalam berbagai jabatan penting. Ia pernah menjadi Kasdam Jaya tatkala terjadi peristiwa 27 Juli 1996. Setelah itu, ia promosi menjadi Pangdam II Sriwijaya sampai akhirnya ditarik ke Mabes ABRI sebagai Kasospol dengan pangkat letjen.
Ketika Presiden Gus Dur berkuasa, SBY yang juga menantu Jenderal Sarwo Edhie Wibowo ini ditawari masuk kabinet sebagai Mentamben. Tawaran tersebut diterima yang di sisi lain, membuatnya terpaksa harus pensiun lebih cepat 5 tahun dari karir militernya.
Kerjasamanya dengan Presiden Gus Dur berlangsung tak lama. Setelah sempat mampir sebagai menkopolkam di tahun 2001, SBY kemudian diberhentikan oleh Gus Dur. Tapi begitu Gus Dur dilengserkan MPR, dan Megawati naik menjadi presiden, SBY kembali ditunjuk menjadi menkopolkam.
Kebersamaan dengan Megawati pun ternyata tak awet. Menjelang akhir masa pemerintahannya, SBY tak dilibatkan dalam beberapa pengambilan kebijakan pemerintahan. Uneg-uneg ini disampaikan kepada pers yang menyebabkan suami Megawati, Taufik Kiemas menyebutnya sebagai jenderal yang kekanak-kanakan. Tak dinyana justru sindiran ini melambungkan simpati publik pada SBY.
Pada pemilu 2004, SBY dengan kendaraan Parta Demokrat yang telah ia persiapkan sejak tahun 2001, SBY maju ke bursa capres bersama Jusuf Kalla (JK). Pasangan ini mendapat dukungan penuh dari PKS dan PBB. SBY-JK pun akhirnya memenangkan pemilihan presiden dalam 2 putaran setelah mengalahkan Megawati-Hasyim Muzadi dalam duel terakhir.
Selama menjadi presiden, banyak deraan menimpa SBY. Pada awal pemerintahannya, ada idiom SBY adalah presiden bencana karena banyaknya bencana alam yang menimpa Indonesia. Setelah itu berlanjut dengan krisis minyak yang memaksanya menaikkan harga premium dan solar.
Meski demikian, SBY pun punya catatan sukses. Di masa pemerintahannya lah konflik Aceh terselesaikan, demikian pula dengan komitmen pemberantasan korupsi yang realisasinya jauh lebih bagus ketimbang presiden-presiden sebelumnya.
sumber: http://pemilu.detiknews.com/read/2009/01/05/124302/1057638/710/susilo-bambang-yudhoyono
Profil Megawati Sukarnoputri
Nama :
Dyah Permata Megawati Setyawati Sukarnoputri
Tempat / Tgl Lahir :
Yogyakarta, 23 Januari 1947
Agama :
Islam
Suami :
Taufik Kiemas
Anak :
1. Mohammad Rizky Pratama
2. Mohammad Prananda
3. Puan Maharani
Pendidikan :
S1 Institut Pertanian Bogor (IPB) – tidak selesai
Karir :
1986 : Wakil Ketua Cabang PDI Jakpus
1987 - 1992 : Anggota DPR/MPR
1999 - 2001 : Wakil Presiden RI
2001- 2004 : Presiden RI
2000 – sekarang : Ketua Umum PDIP
Alamat : Jl. Teuku Umar 27 A, Jakarta Pusat
Ayahnya memberi nama Megawati Sukarnaputri, tapi setelah bertahun-tahun lidah orang Indonesia menyebutnya sebagai Megawati Sukarnoputri. Megawati putri sulung proklamator Soekarno lahir di ibukota revolusi, Yogyakarta, 23 Januari 1947. Ia merupakan wanita Indonesia pertama dan – hingga kini masih – satu-satunya yang pernah menjadi presiden Republik Indonesia.
Saat kecil, sebetulnya Megawati tidak dipersiapkan untuk ikut merambah dunia politik. Justru semula, kakaknya Guntur Sukarnoputra yang kerap diajak sang ayah hadir dalam berbagai kunjungan politik. Namun badai G 30 S praktis membuyarkan kehidupan mapan keluarga besar Soekarno. Sang ayah dirumahkan sampai kemudian meninggal di tahun 1970, sementara anak-anaknya terpinggirkan.
Dalam kondisi seperti, Megawati ternyata muncul sebagai penerus dinasti keluarga di bidang politik. Ia terjun pertama kali ke dalam parpol pada tahun 1986. Saat itu Mega diajak oleh Ketum PDI saat itu, Soerjadi. Hubungan baik ini akhirnya runtuh di tahun 1993, ketika Mega berhasil menggusur Soerjadi sebagai Ketum PDI dalam Kongres di Surabaya.
Namun, kemenangan Mega ternyata tak diakui pemerintah. Sebaliknya, Orde Baru tetap mengakui PDI di bawah pimpinan Soerjadi. Dualisme kepemimpinan PDI akhirnya mencapai puncaknya di tahun 1996, ketika PDI Soerjadi yang didukung aparat mengambilalih kantor DPP PDI di Jl Diponegoro pada 27 Juli 1996 yang berakhir dengan kerusuhan.
Peristiwa 27 Juli tersebut justru menguatkan nama Megawati sebagai tokoh oposisi. Dukungan massa akar rumput yang merasa senasib sepenanggungan di-marginalkan oleh Orde Baru secara perlahan terkumpul di belakangnya. Begitu Orba jatuh pada 1998, setahun kemudian Mega mendirikan PDI Perjuangan (PDIP).
PDIP langsung dikenal sebagai partainya wong cilik. Partai iniberhasil menjadi juara nomor satu dalam Pemilu 1999. Tapi perolehan ini ternyata tak cukup menjadikan Mega sebagai presiden. Konspirasi Poros Tengah justru mendudukan KH Abdurrahman Wahid (PKB) menjadi presiden. Sementara Mega cukup sebagai wapres.
Dilengserkannya Gus Dur dalam Sidang Istmewa 2001 memberi jalan bagi Megawati untuk naik derajat sebagai presiden. Masa kepemimpinannya berakhir tahun 2004. Dalam pemilu tahun itu juga, Mega dikalahkan oleh Susilo Bambang Yudhoyono, pensiunan jenderal yang pernah menjadi pembantunya, menteri koordinator polkam.
Megawati menikah 3 kali. Suami pertamanya adalah seorang penerbang TNI AU, Lettu Surindro Supriarso. Namun suami pertamanya hilang dalam sebuah penugasan di Biak, tahun 1971. Dari suami pertama ini, Megawati dikaruniai dua orang putra. Setahun kemudian, Mega menikah lagi dengan seorang eks diplomat Mesir, Hassan Gamal Ahmed Hassan. Pernikahan ini lalu dibatalkan oleh pengadilan. Suami terakhir Mega adalah Taufik Kiemas, seorang pengusaha yang juga pengagum Bung Karno. Pernikahan ini dikaruniai seorang putri.
sumber: http://pemilu.detiknews.com/read/2009/01/28/170854/1075752/710/megawati-sukarnoputri
Dyah Permata Megawati Setyawati Sukarnoputri
Tempat / Tgl Lahir :
Yogyakarta, 23 Januari 1947
Agama :
Islam
Suami :
Taufik Kiemas
Anak :
1. Mohammad Rizky Pratama
2. Mohammad Prananda
3. Puan Maharani
Pendidikan :
S1 Institut Pertanian Bogor (IPB) – tidak selesai
Karir :
1986 : Wakil Ketua Cabang PDI Jakpus
1987 - 1992 : Anggota DPR/MPR
1999 - 2001 : Wakil Presiden RI
2001- 2004 : Presiden RI
2000 – sekarang : Ketua Umum PDIP
Alamat : Jl. Teuku Umar 27 A, Jakarta Pusat
Ayahnya memberi nama Megawati Sukarnaputri, tapi setelah bertahun-tahun lidah orang Indonesia menyebutnya sebagai Megawati Sukarnoputri. Megawati putri sulung proklamator Soekarno lahir di ibukota revolusi, Yogyakarta, 23 Januari 1947. Ia merupakan wanita Indonesia pertama dan – hingga kini masih – satu-satunya yang pernah menjadi presiden Republik Indonesia.
Saat kecil, sebetulnya Megawati tidak dipersiapkan untuk ikut merambah dunia politik. Justru semula, kakaknya Guntur Sukarnoputra yang kerap diajak sang ayah hadir dalam berbagai kunjungan politik. Namun badai G 30 S praktis membuyarkan kehidupan mapan keluarga besar Soekarno. Sang ayah dirumahkan sampai kemudian meninggal di tahun 1970, sementara anak-anaknya terpinggirkan.
Dalam kondisi seperti, Megawati ternyata muncul sebagai penerus dinasti keluarga di bidang politik. Ia terjun pertama kali ke dalam parpol pada tahun 1986. Saat itu Mega diajak oleh Ketum PDI saat itu, Soerjadi. Hubungan baik ini akhirnya runtuh di tahun 1993, ketika Mega berhasil menggusur Soerjadi sebagai Ketum PDI dalam Kongres di Surabaya.
Namun, kemenangan Mega ternyata tak diakui pemerintah. Sebaliknya, Orde Baru tetap mengakui PDI di bawah pimpinan Soerjadi. Dualisme kepemimpinan PDI akhirnya mencapai puncaknya di tahun 1996, ketika PDI Soerjadi yang didukung aparat mengambilalih kantor DPP PDI di Jl Diponegoro pada 27 Juli 1996 yang berakhir dengan kerusuhan.
Peristiwa 27 Juli tersebut justru menguatkan nama Megawati sebagai tokoh oposisi. Dukungan massa akar rumput yang merasa senasib sepenanggungan di-marginalkan oleh Orde Baru secara perlahan terkumpul di belakangnya. Begitu Orba jatuh pada 1998, setahun kemudian Mega mendirikan PDI Perjuangan (PDIP).
PDIP langsung dikenal sebagai partainya wong cilik. Partai iniberhasil menjadi juara nomor satu dalam Pemilu 1999. Tapi perolehan ini ternyata tak cukup menjadikan Mega sebagai presiden. Konspirasi Poros Tengah justru mendudukan KH Abdurrahman Wahid (PKB) menjadi presiden. Sementara Mega cukup sebagai wapres.
Dilengserkannya Gus Dur dalam Sidang Istmewa 2001 memberi jalan bagi Megawati untuk naik derajat sebagai presiden. Masa kepemimpinannya berakhir tahun 2004. Dalam pemilu tahun itu juga, Mega dikalahkan oleh Susilo Bambang Yudhoyono, pensiunan jenderal yang pernah menjadi pembantunya, menteri koordinator polkam.
Megawati menikah 3 kali. Suami pertamanya adalah seorang penerbang TNI AU, Lettu Surindro Supriarso. Namun suami pertamanya hilang dalam sebuah penugasan di Biak, tahun 1971. Dari suami pertama ini, Megawati dikaruniai dua orang putra. Setahun kemudian, Mega menikah lagi dengan seorang eks diplomat Mesir, Hassan Gamal Ahmed Hassan. Pernikahan ini lalu dibatalkan oleh pengadilan. Suami terakhir Mega adalah Taufik Kiemas, seorang pengusaha yang juga pengagum Bung Karno. Pernikahan ini dikaruniai seorang putri.
sumber: http://pemilu.detiknews.com/read/2009/01/28/170854/1075752/710/megawati-sukarnoputri
Monday, June 15, 2009
Pilpress 2009 dengan Semangat Persaudaraan
Tanggal 8 Juli 2009 nanti kita selaku warga negara Republik Indonesia akan melakukan pemilihan presiden secara langsung untuk yang kedua kalinya. Pada tahun ini ada 3 kandidat calon presiden yang akan bersaing untuk menjadi yang terbaik untuk negeri kita tercinta ini.
Ayo kita ciptakan semangat persaudaraan didalam pilpres kali ini, dengan tidak saling memaki, menjelekan pihak tertentu. Karena siapapun yang akan menjadi presiden Indonesia, pasti dia adalah orang terbaik yang dipilih oleh rakyat Indonesia. Dengan tidak melakukan aksi golput anda ikut serta didalam kemajuan negeri kita tercinta ini. Wujudkan Indonesia yang makmur dan damai.
Ayo kita ciptakan semangat persaudaraan didalam pilpres kali ini, dengan tidak saling memaki, menjelekan pihak tertentu. Karena siapapun yang akan menjadi presiden Indonesia, pasti dia adalah orang terbaik yang dipilih oleh rakyat Indonesia. Dengan tidak melakukan aksi golput anda ikut serta didalam kemajuan negeri kita tercinta ini. Wujudkan Indonesia yang makmur dan damai.
Di Kota Bekasi Sekolah Gratis
(koran-bekasi.blogspot.com) Bersyukurlah para penduduk Kota Bekasi karena didaerah mereka pendidikan Sekolah Dasar (SD) sudah dibebas biayakan. Ketika keputusan tersebut diambil oleh Mochtar Mochamad selaku Walikota Kota Bekasi, hampir semua pihak menyambut baik hal ini karena banyak sekali penduduk yang akan diuntungkan atau dalam hal ini tidak mampu dapat menikmati pendidikan sekolah (walaupun masih setingkat SD).
Namun dibalik baiknya keputusan tentang pendidikan gratis tersebut, ternyata ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan seperti tidak bertanggung jawabnya orang tua murid atas pendidikan anaknya. Mengapa demikian? Bukankah dengan cara gratis mereka dapat sekolah secara cuma-cuma, memang benar tetapi kebanyakan orang tua tidak seperti itu mereka justru memiliki pemikiran "biarin aja ga naik kelas, kan sekolahnya gratis". Ironi bukan jika kita mendengar pernyataan tersebut dari salah satu orang tua murid, bukannya mereka memberikan dukungan agar dengan pendidikan gratis ini anaknya harus lebih giat lagi belajar.
Dari sisi pihak pengajar atau dalam hal ini guru, tidak luput dari berbagai anggapan seperti dengan gaji mereka (guru) pada saat ini yang bisa dibilang sudah banyak mengalami peningkatan seperti saat ini sangat berbanding terbalik dengan kinerja mereka didalam mengajarkan berbagai macam materi di kelas.
Untuk itu kita sebagai masyarakat harus mengadakan pengawasan tentang kebijakan sekolah gratis ini. Anda tidak mau kan uang yang anda bayar melalui pajak digunakan untuk membiayai anak-anak yang tidak bertanggung jawab atau untuk guru yang tidak memiliki tanggung jawab juga.
Namun dibalik baiknya keputusan tentang pendidikan gratis tersebut, ternyata ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan seperti tidak bertanggung jawabnya orang tua murid atas pendidikan anaknya. Mengapa demikian? Bukankah dengan cara gratis mereka dapat sekolah secara cuma-cuma, memang benar tetapi kebanyakan orang tua tidak seperti itu mereka justru memiliki pemikiran "biarin aja ga naik kelas, kan sekolahnya gratis". Ironi bukan jika kita mendengar pernyataan tersebut dari salah satu orang tua murid, bukannya mereka memberikan dukungan agar dengan pendidikan gratis ini anaknya harus lebih giat lagi belajar.
Dari sisi pihak pengajar atau dalam hal ini guru, tidak luput dari berbagai anggapan seperti dengan gaji mereka (guru) pada saat ini yang bisa dibilang sudah banyak mengalami peningkatan seperti saat ini sangat berbanding terbalik dengan kinerja mereka didalam mengajarkan berbagai macam materi di kelas.
Untuk itu kita sebagai masyarakat harus mengadakan pengawasan tentang kebijakan sekolah gratis ini. Anda tidak mau kan uang yang anda bayar melalui pajak digunakan untuk membiayai anak-anak yang tidak bertanggung jawab atau untuk guru yang tidak memiliki tanggung jawab juga.
Subscribe to:
Posts (Atom)